by

Pelari Dari 14 Negara Ramaikan Lari Jelajah Alam Bandung Utara

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Gemuruh lagu Indonesia Raya seolah menyapu hawa dingin di Taman Hutan Raya (Tahura) Ir Djuanda Kabupaten Bandung, waktu subuh, Sabtu (7/9/2019). Menariknya, diantara ratusan orang terlihat warga asing turut khidmat menyanyikan lagu kebangsaan tersebut.

Fragmen tersebut adalah suasana menjelang star lomba lari Bandung Ultra 100 km yang digelar Bandung Ekplorer. Lomba diikuti oleh 900 peserta.

Tak hanya dari Indonesia, lomba diikuti peserta dari 14 negara, diantaranya Australia, Brazil, German, Jepang, Singapura, Hongkong dan Amerika.

Manajer Bandung Eksplorer Dwey mengatakan lomba melintasi tiga medan berbeda.

“Medannya berbatu, hutan pinus dan perkebunan teh,” jelasnya di Tahura Ir Djuanda.

Saat menjelajahi lintasan peserta disuguhi hutan Tahura Djuanda, desa sekitaran hutan serta perkebunan teh. Termasuk eksotika hutan pinus Perhutani KPH Bandung Utara yang membentang dari bukit tunggul, gunung karamat subang, hingga Cikole, Lembang.

Baca Juga Ini  Jokowi: Pariwisata Berpeluang Jadi Penyumbang Devisa Terbesar

Disebutkan Dwey Bandung Ultra 100 km juga bertujuan untuk mengenalkan keindahan alam diwilayah Bandung Utara.

” Kita sambil memperkenalkan alam Jawa Barat, khususnya diwilayah Bandung Utara, ” ujarnya.

Ditempat terpisah Administrstur KPH Bandung Utara Komarudin mengatakan sangat mendukung agenda tahunan Bandung Ultra 100 km.

Selain menumbuhkan atlit-atlit baru, kami berharap para peserta bandung ultra bisa menikmati eksotisme kawasan hutan Bandung Utara dengan berbagai jenis flora dan fauna.

” Semoga acara Bandung Ultra membawa kesan kepada peserta sehingga secara meningkatkan rasa memiliki sense of belonging terhadap kelestarian hutan,” ujarnya melalui pesawat whatsapp.

Baca Juga Ini  Tinjau Puncak Waringin Jokowi: Labuan Bajo Punya Aria Wisata Baru

Lari gunung Bandung Ultra 100 Km merupakan even tahunan. Dan kali ini menjadi even tayang ke 3.

Lomba dengan lokasi finish di Villa Istana Paropong, Lembang ini dibagi dalam tiga kategori berdasarkan jarak. Yakni 100 Km, 60 km serta 25 Km.

Dijelaskan Dwey lomba berjarak 100 km harus diselesaikan dengan waktu tempuh 32 jam. Tak heran jika peserta menempuh lintasan saat malam hari.

Saat malam, sambung Dwey justru menghadirkan hal yang menarik. Lantaran peserta menggunakan head lamp.

” Saat lintasan malam peserta menggunakan cahaya dari head lamp. Itu jadi pemandangan menarik, ” pungkasnya. (sas)

Berita Terbaru