oleh

Rektor Unhas Prof.Dwia Mengakui Prof. Fachruddin Sebagai Sosok Fenomenal.

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Infonawacita.or.id Makassar, . Bedah buku mantan Rektor Unhas, Prof.Dr.Ir.H. Fachruddin menampilkan pembicara Rektor Unhas Prof.Dr.Hj.Dwia Aries Tina Pulubuhu M.A., Putri Fatimah Nurdin, S.E.M.Si.Ph.D. cucu pertama almarhum Prof.Fachrudin dan Tokoh Literasi Sulsel Bachtiar Adnan Kusuma, S.Sos.M.M. dipandu Resky Amaliah Syafiin, S.H.
Rektor Unhas Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, M.A, menilai mantan Rektor Unhas Prof Dr Ir.H. Fachruddin adalah mantan Rektor Unhas yang fenomenal, karena memiliki ide dan terobosan ketika menjadi Rektor Unhas.
“Prof Fachruddin adalah Rektor fenomenal, dengan berbagai ide dan gagasan ketika menjadi Rektor Unhas, di antaranya menggagas Program Pasca Sarjana Unhas, dan Fakultas Pertanian,” Papar Prof Dwia dalam pembahasannya dalam bedah Buku “Separuh Jiwaku untuk Unhas”karya Prof Fachruddin di hotel Mercure, Kamis (19/9/2020).
Ipar mantan Wapres JK ini menilai, salah satu keparipurnaan hidup Prof Fachruddin dengan melahirkan dan mendidik generasi yang berhasil dan sukses dalam kehidupannnya.

“Beliau juga berhasil melahirkan dan mendidik anak-anaknya sampai cucunya menjadi orang berhasil sukses, keberhasilan Gubernur Sulsel Prof Nurdin Abdullah memimpin Sulsel, tidak lepas dari bimbingan dan didikan beliau,” terang Prof Dwia kepada Awak Media Infonawacita.or.id

Sementara itu, Putri Fatimah Nurdin, cucu pertama Prof Fachruddin, menegaskan bahwa kakeknya adalah teladan sekaligus teman diskusinya dalam belajar. “Kakek saya, menjadi teladan sekaligus teman diskusi, dalam mengajar beliau tidak langsung memberi jawaban, tapi memberi pandangan-pandangan, sehingga terbuka wawasan,” Ujar Putri yang tinggal di rumah kakeknya saat di konfirmasi melalui via TLP seluler.

Putri Gubernur Sulsel HM Nurdin Abdullah ini, menguraikan terlalu banyak teladan dan pelajaran semenjak hidup bersama kakeknya, sehingga dirinya menjadi patah hati kakeknya meninggal. “Terus terang waktu meninggal, saya patah hati karena terlalu banyak kenangan hidup bersama kakek saya,” kata Putri yang baru menyelesaikan gelar PhDnya di Jepang.

Hadir sebagai pembedah pamungkas, yang juga sebagai penyunting Buku ini, Bachtiar Adnan Kusuma, menjelaskan berbagai hal, terutama pengalaman pribadinya bersama Prof Fachruddin dan Dra Is Fachrudin.
“Prof Fachruddin adalah sosok sederhana dan dermawan, contohnya beliau selalu memberi uang ketika bertandang ke rumahnya. Bahkan salah satu kenangan tidak terlupa, ketika meminjamkan mobilnya untuk mengantar Ibu saya ke asrama haji, ketika mau berhaji,” Urai Tokoh Literasi Sulsel ini saat infonawacita.or.id mewawancarai.

Bedah buku yang diawali dengan testimoni keluarga dan murid langsung Prof Fachruddin, dihadiri kurang lebih 200 orang, dari berbagai kalangan seperti Putra Fachruddin, Direktur Perseroda Sulsel Taufik Fachruddin, Ikbal Fachrudin, Dr.Ir.Hj.Vien Fachrudin tokoh pers Dahlan Abubakar serta sejumlah pengurus LPM, Komunitas literasi di Sulsel, Forum Perpustakaan Lorong Desa Sulsel, Karyawan Dinas Perpustakaan Arsip Sulsel, Risinng Star Anggi serta beberapa Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten di Sulsel, Kepsek SMA 20. (OK)

Berita Terbaru