Makam Pahlan Di Desa Muaracikadu.
“Salah satu jiwa patriotisme mereka terbentuk dengan mengadakan ziarah sebelum pelaksanaan pengibaran bendera Sang Saka Merah Putih. Kami bangga, bahagia melalui kegiatan ini setidaknya Makam Pahlawan di desa kami bisa dikenal oleh masyarakat luas,” ujar Surahman, Kepala Desa Muaracikadu, saat memberikan sambutan singkat di sela prosesi.
Mengaku Jantung Berdekat Saat Mendekat Batu Nisan.
Momen hening di depan pusara mengubah kebersamaan menjadi pelajaran. Seorang peserta, siswa SMA setempat, mengaku jantungnya berdebar saat mendekat pada salah satu nisan.
“Waktu baca nama dan tahun kelahiran, saya teringat orang tua saya. Saya sadar perjuangan itu nyata — bukan sekadar kata dalam buku sejarah,” katanya, menahan haru.
Panitia menjelaskan bahwa tujuan ziarah bukan hanya simbolis. Selain menanamkan rasa hormat kepada para pahlawan, kegiatan ini didesain sebagai sarana pendidikan karakter.
Para peserta mendapat pengarahan singkat tentang latar sejarah pahlawan-pahlawan lokal, arti simbol-simbol nasional, serta pentingnya menjaga martabat saat bertugas mengibarkan bendera.
Tokoh masyarakat yang hadir menyambut positif. Mereka berharap ziarah seperti ini berubah menjadi program rutin yang melibatkan lebih banyak sekolah dan organisasi pemuda.



