Keterbatasan Tenaga Ahli Gizi Masih Jadi Tantangan
Meski berjalan baik, Bilqist tidak menutup mata terhadap sejumlah kendala yang dihadapi di lapangan. Salah satunya adalah keterbatasan tenaga ahli gizi di wilayah selatan.
Banyak ahli gizi enggan ditempatkan di daerah terpencil, sehingga pihak yayasan berinisiatif memanfaatkan lulusan teknologi pangan dengan kompetensi setara.
“Kesulitan terbesar kami saat ini adalah tenaga ahli gizi. Mereka jarang mau ditempatkan di daerah selatan, padahal kebutuhan kami sangat mendesak agar dapur-dapur ini bisa berjalan optimal,” jelasnya.
Harapan untuk Masa Depan Generasi Sehat dan Cerdas
Kendati demikian, Bilqist tetap optimistis program ini akan terus berlanjut dan mendapat dukungan penuh dari pemerintah pusat maupun daerah.
Ia menegaskan bahwa tujuan utama MBG adalah pemerataan gizi serta peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia sejak dini.
“Harapan kami, program ini terus berlanjut dan semakin baik. Siapa tahu, dari anak-anak yang menikmati makan bergizi ini kelak lahir pemimpin-pemimpin hebat yang membawa kemajuan bagi bangsa,” pungkasnya.
Dengan semangat gotong royong dan kepedulian sosial, program Makan Bergizi Gratis (MBG) diharapkan menjadi tonggak penting menuju Indonesia yang sehat, kuat, dan berdaya saing tinggi — dimulai dari dapur-dapur sederhana di pelosok Cianjur Selatan.(dkh/Rik)



