Ia menegaskan bahwa dari sekitar 3.000 porsi makanan yang didistribusikan di wilayah tersebut, hanya sebagian kecil siswa dari satu sekolah dan satu kampung yang mengalami gangguan kesehatan.
“Jika memang dari makanan, tentu dampaknya akan lebih luas. Kami menduga ada faktor lain, seperti virus lingkungan atau kontaminasi di luar dapur,” ujarnya.
Cahyadi juga memastikan bahwa proses pengolahan makanan dilakukan dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ketat, mulai dari seleksi bahan baku, proses memasak, hingga uji coba sebelum makanan didistribusikan.



