Terjadi Kesalahpahaman.
​Bupati juga mengingatkan para penyuluh untuk memberikan penjelasan mengenai KB sedetail-detailnya agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Ia memberikan contoh lucu namun penting mengenai cara penggunaan alat kontrasepsi yang keliru karena penjelasan yang kurang tepat.
“Jangan sampai tadi kondom dipasangnya di jempol ya karena diterangkannya pakai jempol. Terus jangan sampai pil KB diminum hanya setelah senggama saja,” candanya, yang disambut tawa namun mengandung pesan serius tentang pentingnya edukasi komprehensif.
Ia juga menyarankan penggunaan metode KB yang tepat seperti pil, implan, atau IUD.
​Lebih lanjut, Bupati Wahyu Ferdian mengungkapkan adanya program “Kampung Istimewa” di Kabupaten Cianjur. “Tadi saya ngobrol-ngobrol sama Pak Kepala Dinas, ada kampung istimewa di Kabupaten Cianjur,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa kampung istimewa adalah kampung yang memenuhi syarat-syarat tertentu, antara lain lingkungan yang bersih dengan pengelolaan sampah yang baik, kepala keluarga (bapak-bapak) bekerja, ibu-ibu ber-KB, anak-anak sekolah, dan tempat ibadah yang dimakmurkan. Kampung yang memenuhi syarat ini akan diberi titel “Kampung Istimewa” dan mendapatkan prioritas pembangunan.
​Menjelang akhir sambutannya, Bupati menitipkan dua pesan utama kepada pengurus IPeKB yang baru dikukuhkan.
Pertama, fokus intervensi harus ditujukan kepada keluarga berisiko stunting dan kelompok yang rentan secara sosial.
Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam mengatasi masalah gizi buruk pada anak dan meningkatkan kesejahteraan sosial.



