Scroll untuk baca artikel
DaerahHome

Dorong Siswa Baru Jadi Generasi RAMAH dan Berkarakter, Bupati Cianjur Wahyu Buka MPLS SMAN 1 Cianjur 2025

1447
×

Dorong Siswa Baru Jadi Generasi RAMAH dan Berkarakter, Bupati Cianjur Wahyu Buka MPLS SMAN 1 Cianjur 2025

Sebarkan artikel ini
09d463c9-7077-4f96-a8d5-de6f809637a6
56457df6-94f1-482b-91c9-577872a82677
77ea6e57-b31c-44f1-9693-1177a8bc32d2
Spread the love

Mengikuti Proses Pembelajaran..!

Ia menekankan bahwa tujuan utamanya adalah agar anak-anak siap untuk mengikuti proses pembelajaran.

Lebih lanjut, Agam Supriyanta menjelaskan bahwa pengenalan lingkungan sekolah akan dilakukan secara tidak langsung, fokus pada pembentukan karakter dan sikap anak-anak di suasana baru.

“Jika kita membicarakan targetnya, tidak hanya aspek pengetahuan saja, tetapi kita lebih menekankan kepada karakter ataupun sikap anak saat nanti masuk dalam suasana yang baru.

Kesiapan anak di sini mudah-mudahan itu nanti mampu menyesuaikan dengan lingkungan yang baru dan mampu mengikuti pembelajaran dengan baik, harapannya seperti itu,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Agam Supriyanta juga memaparkan inovasi program dari Gubernur Jawa Barat yang turut menyukseskan penerimaan peserta didik baru di SMAN 1 Cianjur.

Ada dua program unggulan yang diluncurkan oleh Gubernur. Pertama, program Sekolah Penyangga. Program ini ditujukan untuk sekolah-sekolah yang berdekatan dengan kecamatan yang tidak memiliki sekolah menengah atas, sehingga warga di daerah tersebut dapat terfasilitasi untuk melanjutkan pendidikan.

“Program sekolah penyangga itu diberikan kepada sekolah-sekolah yang berdekatan dengan kecamatan yang tidak memiliki sekolah sehingga ada warga yang memang tadinya tidak bisa mengikuti atau tidak masuk ke sekolah tersebut jadi terfasilitasi,” terang Agam.

Kedua, program Pencegahan Anak Putus Sekolah (PAPS). Program ini sangat bagus karena memfasilitasi lima kriteria anak yang rentan putus sekolah. Kriteria tersebut meliputi:
* Anak yang berasal dari keluarga P3KE atau miskin ekstrem.
* Anak yang berasal dari keluarga ekonomi tidak mampu.
* Anak yang berasal dari daerah bencana.
* Anak dari panti asuhan atau yatim piatu.
* Anak bina lingkungan sosial budaya.
“PAPS ini memberikan peluang kepada warga masyarakat yang rentan putus sekolah sehingga dapat melaksanakan pembelajaran lebih lanjut,” kata Agam.