Unggahan Status Media Sosial Jadi Pemicu
AKP Fajri juga mengungkapkan bahwa pemicu awal perkelahian pelajar tersebut diduga berasal dari unggahan status media sosial yang menggunakan inisial huruf “R”. Unggahan tersebut ditafsirkan oleh pihak lain sebagai ajakan untuk berkelahi, sehingga memicu komunikasi lanjutan hingga berujung pada pertemuan langsung atau cash on delivery (COD).
“Sebenarnya tidak ada konflik sebelumnya. Hanya ada status dengan inisial ‘R’ yang diartikan sebagai ‘ribut’. Dari situ terjadi DM dan mereka sepakat bertemu,” ungkapnya.
Polisi Dalami Peran Masing-Masing Pelajar
Berdasarkan pemeriksaan identitas sementara, seluruh pihak yang terlibat diketahui merupakan pelajar tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Hingga saat ini, kesepuluh pelajar yang diamankan masih berstatus sebagai saksi.
“Semuanya masih pelajar. Statusnya saat ini masih saksi dan kami masih mendalami peran masing-masing dalam peristiwa perkelahian tersebut,” kata AKP Fajri.



