Scroll untuk baca artikel
HomePolitik

Perempuan Hebat dan Cerdas di Indonesia

1627
×

Perempuan Hebat dan Cerdas di Indonesia

Sebarkan artikel ini
Spread the love

Masih Banyak Perempuan Yang Hanya Lulusan Sekolah Dasar

Pendidikan bagi perempuan dikatakan masih rendah. Termasuk angka partisipasinya.  Karena dilihat dari kenyataan di lapangan masih banyak perempuan yang hanya lulusan sekolah dasar kemudian tidak melanjutkan ke pendidikan menengah atau bahkan ke perguruan tinggi.

Ada beberapa alasan yang menyebabkan perempuan tidak memiliki keinginan atau kecenderungan untuk melanjutkan pendidikan.
Pertama, karena pandangan toelogis bahwa perempuan merupakan bagian dari laki-laki. Dia adalah tulang rusuk laki-laki. Pandangan ini diambil dari teks ajaran agama, bahwa yang bisa menjadi pemimpin hanyalah kaum laki-laki, sedangkan perempuan tidak.

Kedua, pandangan sosiologis bahwa perempuan dalam berbagai hal banyak diposisikan berada di dalam rumah. Lebih banyak berada di dalam urusan domestik ketimbang urusan publik. Pandangan ini juga menyatakan perempuan tidak perlu pendidikan yang tinggi karena lebih banyak berada diruang domestik itu.

Ketiga, pandangan psikologis bahwa perempuan dianggap tidak penting untuk berpendidikan tinggi karena posisinya yang lebih banyak menjadi istri. Dalam tradisi kita banyak anggapan perempuan harus segera dikawinkan. Kawin muda lebih baik daripada menjadi perawan tua. Orang tua merasa sangat ketakutan apabila anak perempuannya tidak segera mendapatkan jodoh.

Keempat, pandangan budaya bahwa perempuan hanya menjadi pelengkap saja. Bahkan ada ungkapan tradisi yang menyatakan ”perempuan itu, suwargo nunut neroko katut”. Artinya bahwa perempuan itu hanyalah konco wingking, atau kawan di belakang atau di dalam rumah.

Kelima, pandangan ekonomi bahwa banyak orang tua yang lebih mementingkan pendidikan anak laki-lakinya ketimbang anak perempuannya. Pandangan-pandangan seperti ini yang mengakibatkan kurangnya angka partisipasi perempuan dibidang pendidikan. Banyak perempuan, terutama di pedesaan tidak melanjutkan pendidikannya. Lulus sekolah dasar dianggap sudah cukup.

Masalah lainnya yang dihadapi perempuan adalah menikah muda, bercerai, dan menjadi single parent. Meskipun perceraian tidak pernah diinginkan namun pada kenyataannya sangat sering terjadi. Selain alasan menikah muda, single parent juga bisa terjadi karena kehamilan sebelum menikah dan kematian suami.

Menjadi seorang single parent tidaklah mudah karena membutuhkan energi yang lebih. Apalagi adanya embel-embel janda, sering kali dalam masyarakat diremehkan. Masalah ekonomi keluarga yang harus ditopang sendiri, belum lagi kewajiban harus membesarkan anak.

Di satu sisi perempuan harus memenuhi kebutuhan psikologis anak-anaknya dengan kasih sayang, perhatian dan rasa aman, Disamping harus memenuhi semua kebutuhan fisik anak-anaknya yaitu kebutuhan sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, dan kebutuhan yang lain berkaitan dengan materi.

Atinya, perempuan yang berstatus single parent harus mampu mengkombinasikan antara pekerjaan domestik dan publik demi tercapainya tujuan keluarga yang utama, yaitu membentuk anak yang berkualitas.

Sesungguhnya, tidak mudah menjalankan dua peran sekaligus, sehingga dibutuhkan manajemen keluarga khusus dan matang agar anak yang dibesarkan pada kondisi single parent sama berkualitasnya dengan anak yang dibesarkan pada keluarga utuh.

Sebab itu sebagai perempuan generasi masa depan, kita harus berani membekali diri dengan segala macam pengetahuan, pengalaman yang positif serta mental yang kuat.

Ketatnya persaingan dan kerasnya hidup harus bisa dihadapi dengan baik, karena generasi yang baik itu bergantung pada perempuannya. Kodrat seorang perempuan memang menjadi seorang ibu atau domestik, namun tidak salah juga bila perempuan pada akhirnya bisa berperan di sektor publik. Selama bisa dilakukan dengan keseimbangan antara sebagai seorang istri dan juga seorang ibu, misalnya.*)

Penulis adalah : Caleg DPRD DAPIL 4 Kabupaten Bandung Sekretaris KPPG Kabupaten Bandung Ketua Bidang Organisasi Kaderisasi dan Keanggotaan DPD GOLKAR Kabupaten Bandung

Wakil Sekretaris Bidang Organisasi DEPIDAR IX SOKSI Jawa Barat Wakil Sekretari Bidang Sosial Pemuda Panca Marga (PPM) Jawa Barat Dan Wakil Bendahara Kaukus Perempuan Politik Indonesia Kabupaten Bandung