“Dimakan, tapi tidak semuanya habis. Namanya anak-anak, kadang sudah makan tetap ingin jajan lagi,” tuturnya.
Ia juga menyoroti minimnya interaksi langsung antara pihak dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dengan sekolah. Namun, berdasarkan klarifikasi yang diterima, kunjungan biasanya dilakukan bersamaan dengan penyaluran insentif.
“Kebetulan saya juga baru di sini, belum sempat bertemu langsung dengan pihak SPPG. Ditambah kemarin ada libur hari raya, jadi mungkin belum ada jadwal kunjungan,” jelasnya.
Insentif Distribusi Diterima Sekolah
Terkait insentif, Saepudin menyebutkan nominal yang diterima bersifat variatif. Saat ini besaran insentif berkisar Rp300 ribu per 10 hari, menurun dari sebelumnya Rp500 ribu.
“Insentif itu diberikan untuk guru-guru atau petugas yang membantu distribusi makanan, seperti pembagian ompreng,” ungkapnya.



