Ia menjelaskan, keberadaan kelas jauh tersebut merupakan hasil usulan masyarakat yang menginginkan anak-anak memperoleh akses pendidikan lebih dekat dengan tempat tinggal mereka.
Pertimbangan utama pembukaan kelas jauh adalah faktor keselamatan peserta didik yang harus menempuh perjalanan cukup jauh menuju sekolah induk.
“Perlu kami jelaskan bahwa yang terlihat dalam video merupakan kelas jauh SDN Banyuasih. Kelas jauh ini dibuka atas permintaan masyarakat karena kondisi geografis yang cukup sulit dan berisiko bagi anak-anak jika harus berangkat ke sekolah induk setiap hari,” kata Rifki.
Anak Harus Tempuh Jarak 5 Kilometer Melewati Medan Berat
Berdasarkan data Disdikpora, jumlah siswa yang mengikuti kegiatan belajar di kelas jauh tersebut mencapai sekitar 45 orang.
Sementara itu, sekolah induk SDN Banyuasih memiliki sekitar 42 peserta didik.
Rifki mengungkapkan, akses menuju sekolah induk tidak mudah. Para siswa harus menempuh perjalanan sekitar lima kilometer dengan waktu tempuh hampir satu jam.
Medan yang dilalui berupa jalan menanjak dan curam, bahkan terdapat aliran sungai yang harus dilewati. Kondisi tersebut dinilai berisiko, terutama ketika musim hujan.
“Pertimbangan utama dibukanya kelas jauh adalah faktor keselamatan peserta didik. Anak-anak harus menempuh perjalanan yang cukup jauh, sekitar lima kilometer, dengan kondisi jalan yang menanjak, curam, dan harus melewati sungai,” ujarnya.



