“Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, sekitar 80 persen target penyerapan biasanya tercapai di semester pertama, terutama pada puncak panen antara bulan Maret hingga Juni,” katanya.
Musim Hujan Jadi Tantangan, Kualitas Tetap Terjaga
Yanto mengakui, curah hujan yang tinggi menjadi tantangan tersendiri di lapangan, khususnya bagi petani yang masih melakukan panen secara manual. Kondisi tersebut berpengaruh terhadap waktu panen dan kadar air gabah.
“Musim hujan memang berdampak, baik dari sisi waktu panen maupun kualitas gabah. Namun masyarakat dan petani tidak perlu khawatir,” tegasnya.
Ia memastikan, Bulog menerapkan standar
kualitas yang ketat dalam proses penyerapan. Gabah yang masuk akan diproses bersama mitra penggilingan (marcon) hingga mencapai kadar air standar 14 persen, sehingga aman untuk disimpan dalam jangka panjang.
“Mulai dari masuk gudang sampai proses penggilingan semuanya distandarkan. Jadi kualitas gabah dan beras tetap terjaga,” jelas Yanto.
Cianjur Selatan Jadi Andalan Produksi
Bulog Cabang Cianjur membawahi tiga wilayah, yakni Kabupaten Cianjur, Kota Sukabumi, dan Kabupaten Sukabumi, yang memiliki potensi produksi pangan cukup besar.
Di Kabupaten Cianjur, wilayah selatan
seperti Sindangbarang, Agrabinta, Pagelaran, dan Tanggeung disebut sebagai daerah dengan potensi panen gabah yang signifikan.
Serapan Jagung dan Dukungan Aparat
Selain gabah dan beras, Bulog Cianjur juga mendapat penugasan untuk melakukan penyerapan jagung pipil kering dengan target sekitar 6.000 ton. Dalam pelaksanaannya, Bulog bekerja sama dengan Polres sebagai pendamping di lapangan.



