Menurut Kepala Dusun Cibitung Desa Hegarmulya Edi, selain menggunakan rakit ada dua lokasi penyeberangan lain dari Desa Hegarmulya menuju Desa Mulyasari. Dua lokasi itu berada di Kampung Muarajengkol menuju Kampung Legokyenang, namun di dua lokasi ini warga menyeberang menggunakan Jembatan bambu.
Menurut Edi, rakit bambu tersebut bisa dikatakan alat penyebrang yang aman dibanding jembatan bambu. Kendati disebutkan aman, namun ketika sungai meluap maka rakit tidak bisa digunakan. “Disaat banjir terpaksa tidak bisa menyebrang, warga yang mau melintas harus nunggu dulu beberapa jam,” ucapnya, Minggu lalu.
Sementara itu, Kepala Desa Bunisari, Fadil Fauziah mengatakan kondisi jalan menuju penyeberangan dan harapan warga, yaitu ingin jembatan kokoh yang bisa menghubungkan Agrabinta dan Kecamatan Cisadap Sumabumi.
Jembatan permanenen, lanjut Fadil Fauziah menjadi hal yang dibutuhkan warga Bunisari dan Mulyasari. Karena bukan akses jalan mobil, maka warga tidak muluk-muluk, cuma mau dibangun jembatan gantung oleh pemerintah.


