JAKARTA – Di balik raut wajahnya yang tenang, tersimpan kisah perjuangan panjang dari Yenita Sari, S.H., M.H., seorang perempuan tangguh dalam dunia penegakan hukum Indonesia. Sebagai mantan Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Sumedang, namanya mencuat ke publik setelah berhasil mengungkap mega skandal korupsi proyek Tol Cisundawu yang merugikan negara hingga Rp 329,7 miliar.
Kini, Yenita dipercaya menjabat sebagai Kepala Subdirektorat Penegakan Hukum Perdata pada Jaksa Agung Muda Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara. Namun, pencapaian ini tidak diraih dengan mudah. Proses panjang penyelidikan kasus korupsi tersebut diwarnai berbagai tekanan—mulai dari ancaman fisik, fitnah, surat aduan, hingga intervensi politik yang mencoba mengganggu jalannya proses hukum.
“Dalam setiap langkah, saya hanya berpegang pada amanah dan prinsip tegak lurus. Hukum harus menjadi panglima, apa pun risikonya,” ujarnya dalam sebuah kesempatan.
Tidak hanya itu, sebagai aparat hukum yang bertugas di daerah dengan budaya lokal yang kental seperti Sumedang, Yenita juga menghadapi tantangan non-fisik yang sulit dijelaskan secara logika—gangguan yang tak kasatmata, namun nyata dirasakan. Namun ia tidak mundur. Keteguhan dan integritas menjadi senjatanya.
Bagi Yenita, menegakkan hukum bukan sekadar tugas, melainkan panggilan jiwa. Ia meyakini bahwa integritas bukan hanya idealisme kosong, melainkan fondasi utama dalam menegakkan keadilan.
Perjuangannya tak hanya membuka mata publik terhadap praktik korupsi berskala besar, tetapi juga menjadi inspirasi bagi banyak aparat penegak hukum lainnya. Sosoknya kini menjadi simbol harapan—bahwa hukum bisa ditegakkan, meski harus melewati badai tekanan dan kepentingan.(*)
Reporter | Rik | Editor | Redaksi | Website | infonawacita.or.id



