“Untuk nasi dan lauk, idealnya memang harus dikonsumsi kurang dari empat jam. Kalau lebih dari itu, risiko bakteri seperti E. coli bisa muncul,” jelas Alpiyan.
Ia mengungkapkan, pada kejadian tersebut terdapat laporan dari salah satu sekolah sekitar pukul 09.00 WIB bahwa makanan sudah dalam kondisi basi. Menindaklanjuti laporan tersebut, pihak SPPG langsung menarik makanan dari sekolah-sekolah yang belum sempat dikonsumsi.
“Yang belum dikonsumsi berhasil ditarik. Namun sebagian siswa sudah terlanjur mengonsumsi makanan tersebut,” ujarnya.
Evaluasi dan Langkah Perbaikan
Baik Dinkes Cianjur maupun tim kesehatan lingkungan sepakat bahwa kejadian ini menjadi bahan evaluasi penting agar tidak terulang di kemudian hari. Salah satu langkah yang tengah dikaji adalah penataan ulang wilayah layanan SPPG agar distribusi tidak melintasi wilayah yang terlalu jauh dan memakan waktu lama.
“Jika jarak distribusi lebih dekat, waktu tempuh akan lebih singkat dan kualitas makanan bisa lebih terjaga,” pungkas Alpiyan.



