Menurutnya, Ayam Pelung dipilih bukan hanya sebagai simbol daerah, tetapi juga memiliki makna filosofis yang erat dengan kehidupan masyarakat Cianjur.
“Kokok Ayam Pelung pada dini hari menjadi pengingat untuk bangun melaksanakan ibadah. Filosofi ini mencerminkan semangat masyarakat Cianjur yang religius dan menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman,” jelasnya.
Ia menambahkan, identitas Kabupaten Cianjur sebagai daerah religius tidak dapat dipisahkan dari keberadaan pesantren, Madrasah Diniyah, dan budaya mengaji yang telah mengakar di tengah masyarakat.
PORSADIN Bukan Sekadar Mencari Juara
Muhammad Toha menegaskan bahwa tujuan utama PORSADIN bukan semata-mata mengejar prestasi atau gelar juara.
Menurutnya, ajang tersebut menjadi wadah untuk mempererat kebersamaan antara santri, guru, dan pengelola Madrasah Diniyah dari seluruh kecamatan di Kabupaten Cianjur.
Ia juga mengapresiasi semangat para peserta yang tetap hadir meskipun sebagian harus menghadapi keterbatasan biaya.



