Scroll untuk baca artikel
Home

Sejumlah Petani Merana, Sawah di Karang Tengah di Serang Hama Wereng dan Terancam Gagal Panen

1197
×

Sejumlah Petani Merana, Sawah di Karang Tengah di Serang Hama Wereng dan Terancam Gagal Panen

Sebarkan artikel ini
Spread the love

Hama Penyakit Generatif Tinggi.!

Salah satu penyebab utama dipercepatnya siklus ini adalah kondisi kemarau basah dengan curah hujan yang tinggi. “Curah hujannya tinggi sehingga hama penyakit generatif tinggi,” tambahnya.

Hingga saat ini, BPP Karangtengah telah mengidentifikasi beberapa spot lokasi yang terkena serangan wereng. Upaya pengendalian sebenarnya sudah dimulai sejak bulan Mei, namun cakupannya belum maksimal.

“Dari awal kita mulai dari Mei sebenarnya sudah ada pengendalian Pak, cuma itu tidak tersentuh semua mungkin,” jelas Munirul.

Pertemuan dan sosialisasi kepada petani pun sudah dilakukan untuk memberikan pemahaman dan upaya penanggulangan. Bahkan, ia menyebutkan bahwa upaya pengendalian telah digerakkan sejak tanggal 15 dan 23 Mei di lokasi-lokasi terdampak. Serangan wereng kali ini memiliki karakteristik unik, di mana hama cenderung bermigrasi.

“Kalau kita lihat ini, karena itu posisinya perbatasan dengan kecamatan Cilaku, itu memang migrasi Pak, jadi pindah itu kondisi hamanya. Jadi yang awalnya sudah kena sudah panen, itu berpindah bergeser,” papar Munirul.

Kecepatan penyebaran hama ini sangat tinggi, bahkan dalam hitungan hari saja dampaknya sudah luar biasa. “Kalau ada hama yang begitu sporadis itu sehari dua hari itu dampaknya luar biasa,” tegasnya.

Area yang paling parah terdampak di salah satu titik mencapai sekitar 400 meter persegi, meskipun spot-spot lain juga ditemukan. Yang membuat petani semakin terpukul adalah rata-rata kondisi persawahan yang diserang sudah mendekati waktu panen.

“Saya melihat dari beberapa desa yang terkenal itu rata-rata kondisi ini sudah mendekati panennya,” kata Munirul. Akibatnya, banyak petani yang terancam mengalami kerugian panen secara total.

Dalam menghadapi krisis ini, BPP Kecamatan Karangtengah telah melakukan berbagai upaya. Yang pertama adalah sosialisasi dan penyuluhan kepada petani melalui grup-grup komunikasi, terutama grup WhatsApp.

“Sudah kami sampaikan bahwa ini mesti diantisipasi dan apabila ini ada indikasi seperti itu, mohon secepatnya menghubungi kami,” terang Munirul.

Namun, ia mengakui adanya keterbatasan sumber daya. “Petugas di kami ini kan desa 16, petugasnya cuma 8 orang, dan yang khusus menangani OPT cuma satu orang,” keluhnya.

Meskipun demikian, BPP berupaya semaksimal mungkin untuk menanggapi laporan dan melakukan gerakan pengendalian, salah satunya melalui penyemprotan.

“Paling tidak kami sudah menyampaikan informasi penyuluhan, kalaupun misalkan perlu penanganan lebih lanjut, ya sekuat tenaga kami mengadakan gerakan pengendalian dengan melalui penyemprotan,” jelasnya.