“Anak-anak juga merindukan suasana pembelajaran di sekolah. Terlalu lama rasanya libur akibat pandemi ini, sampai seragam sekolah anak saya sudah tidak muat lagi, ” kata Haerudin.
Menurut dia, agenda kegiatan para siswa tidak terkontrol. Mulai dari jadwal tidur hingga bangun. Aktivitas mereka juga tidak terkendali khususnya ketika para orang tua pergi bekerja. “Kalau mereka sekolah, kita tenang. Pulangnya mereka istirahat, sekarang ini nggak tahu harus bilang apa,” paparnya.
Para orang tua juga menyadari bahaya Covid-19. Namun mereka yakin penerapan protokoler Covid-19 yang ketat bisa mencegah penularan wabah ini di sekolah. “Sekarang kembali ditunda, terus belum ada kejelasan sampai kapan penundaan ini dilaksanakan?,” tanyanya.
Senada diutarakqn orang tua siswa di Kecamatan Sindangbarang, Mubarok. Ia mengaku dirinya dilema dengan penundaan simulasi belajar tatap muka. Tapi ia meyakini Pemkab Cianjur melalui Gugus Tugas Covid-19 daerah memiliki argumentasi yang kuat terkait belum memberikan izin pembelajaran tatap muka.


