“Dokumen tersebut perlu dipahami secara mendalam oleh para peneliti maupun penyelenggara pemerintahan karena di dalamnya tergambar arah kebijakan pemerintah menuju pelayanan publik yang semakin modern, efektif, dan berbasis teknologi,” ujarnya.
Penelitian Harus Menjawab Tiga Pertanyaan Utama
Prof. Yosy menegaskan bahwa hakikat penelitian adalah menjawab persoalan nyata yang terjadi di lapangan. Ia mengibaratkan seorang peneliti sebagai dokter yang bertugas mendiagnosis penyakit sebelum memberikan solusi pengobatan.
Menurutnya, setiap penelitian pada dasarnya harus mampu menjawab tiga pertanyaan utama, yaitu apa masalah yang terjadi, mengapa masalah itu muncul, dan bagaimana solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasinya.
“Pada hakikatnya penelitian hanya menjawab tiga pertanyaan penting, yakni apa masalahnya, mengapa masalah itu terjadi, dan bagaimana jalan keluarnya,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa suatu masalah muncul ketika terdapat kesenjangan antara kondisi yang terjadi di lapangan dengan kondisi yang seharusnya terjadi atau dikenal dalam kajian akademik sebagai kesenjangan antara das Sein dan das Sollen.
Sebagai contoh, apabila target Pendapatan Asli Daerah (PAD) telah ditetapkan pada angka tertentu namun realisasinya jauh di bawah target, maka kondisi tersebut dapat menjadi objek penelitian untuk menemukan akar penyebab dan solusi yang tepat.
Teori Harus Menjadi Alat Analisis, Bukan Pajangan
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Yosy juga memberikan penjelasan mengenai pentingnya penggunaan teori dalam penelitian, khususnya penelitian kualitatif.
Menurutnya, teori berfungsi sebagai alat analisis untuk mengidentifikasi penyebab suatu persoalan secara sistematis dan ilmiah.
Ia mencontohkan penggunaan teori implementasi kebijakan Edward III yang dapat digunakan untuk mengkaji suatu masalah melalui empat aspek utama, yaitu komunikasi, sumber daya, struktur birokrasi, dan disposisi atau sikap pelaksana kebijakan.



